Beranda Articles GUT vs GOD

GUT vs GOD

Kingdom Business Community Senin, 26 Februari 2024 6 menit baca

Seringkali seorang pebisnis begitu percaya diri dengan pengalaman yang dimiliki selama bertahun-tahun dalam menjalankan bidang bisnis yang ditekuninya selama ini.

Dengan pengalaman tersebut, mereka akan merasa orang lain yang tidak berada pada bisnis yang sama dengan dirinya, tidak akan mengerti. Dan kalopun beradu argumen, sang pebisnis yang jelas menguasai bidangnya, karena sudah ditekuninya sekian tahun, bahkan lebih dari 1 dekade, akan merasa dirinya sudah menjadi seorang yang ahli.

Pebisnis yang seperti ini biasanya sulit menerima masukan dan saran atau bahkan usulan dari pebisnis lain yang bukan dari bidang sama. Saran dari konsultan juga tidak akan diterimanya dengan mudah, terutama jika si konsultan belum pernah menangani klien yang sama dengan bisnisnya.

Pebisnis yang sedang mengalami kesulitan dalam bisnisnya seringkali mencari teman untuk diskusi, mentor untuk mendampingi, konsultan untuk membereskan. Mengikuti berbagai workshop dan seminar untuk mencari jalan keluar dari kesulitan yang dihadapi. Namun tidak mudah juga mereka menerima masukan, karena faktor yang saya sebutkan sebelumnya, merasa sudah menjadi ahli, dan orang lain tidak mengerti bisnisnya.

Akhirnya pebisnis tersebut akan berputar di kisaran badai pergumulannya tanpa dapat melihat jalan keluar.

Pebisnis yang sedang berada di pusaran badai tidak akan mampu untuk melihat permasalahan yang terjadi. Dirinya terjebak di dalam rutinitas harian, meskipun dorongan untuk segera keluar dari benang kusut permasalahan yang sedang terjadi juga besar. Berharap ada pihak luar yang menariknya ke luar dan mengatasi permasalahan yang dihadapi. Kalopun ada ‘tangan-tangan’ yang ingin menariknya ke luar, ada keraguan besar dalam dirinya sehingga dia tetap berada di dalam badai. Lalu, bagaimana jalan keluarnya?

Mungkin banyak dari teman-teman dalam komunitas yang menyarankan untuk doa, dan bahkan mengusulkan puasa. Bagi yang sedang kalut, bakal merasa tersinggung, karena yang diperlukan adalah solusi nyata di depan mata yang bisa dilakukan.

Doa bukan solusi instant yang diharapkan.

Nah, di sinilah pertarungan antara GUT vs GOD.





GUT = a feeling or reaction based on an instinctive emotional response rather than considered thought (perasaan atau reaksi yang didasari oleh respon insting emosional bukan dari sebuah pertimbangan yang berdasar)

GUT ini timbul secara otomatis karena dasar pengalaman yang sering dihadapi. Pertimbangan tindakannya seringkali bersifat respon yang emosional.

Ini seringkali terjadi karena data pikiran yang dimiliki adalah pengalaman dari melakukan hal yang sama selama bertahun-tahun.

Sesuatu yang sebenarnya sungguh wajar, jika seseorang melakukan berbagai hal pada bidang tertentu selama bertahun-tahun, dia akan menjadi ahli di bidang tersebut, sehingga secara otomatis dia akan berespon seperti yang biasa dilakukannya.

Yang menjadi kendala adalah sulitnya bagi orang yang memiliki GUT yang kuat ini untuk menerima berbagai masukan terkait perkembangan yang terjadi di marketplace yang mempengaruhi bisnis yang dijalankan.

Perubahan ekonomi global yang terjadi 10 tahun terakhir, tidak hanya disebabkan oleh perkembangan teknologi digital. Customer and consumer behavior mengalami perubahan, termasuk efek dari pandemi, yang mengharuskan berbagai bisnis melakukan proses adaptasi. Kecepatan untuk melakukan penyesuaian bukan berarti tanpa resiko, tapi tetap perlu dicoba. Kebiasaan dalam berbisnis yang biasa dilakukan selama bertahun-tahun, mau tidak mau harus diubah agar dapat berhasil memenuhi permintaan pasar. Jangan berharap hasil yang berbeda jika tetap melakukan dengan cara yang sama.

GUT menjadi sesuatu yang dipertanyakan, dapatkah beradaptasi dengan cepat dan tepat mengikuti perubahan pasar?


GOD = sang pencipta, penguasa langit dan bumi, sumber kehidupan, sumber kekuatan dan perlindungan, dan masih banyak lagi yang Dia bisa lakukan, karena memang Dialah yang punya kuasa yang jauh melebihi apa yang dapat kita bayangkan dan kita ucapkan. Dia yang setia tidak pernah meninggalkan kita, Dia yang terlebih tau dan sanggup untuk memulihkan hidup kita.

Namun manusia seringkali lupa akan hal itu. Apa yang Tuhan titipkan lewat pekerjaan dan bisnis yang dipercayakan kepada kita, dipegang begitu erat karena manusia merasa itu adalah miliknya, hasil perjuangannya.

Kita seringkali lupa bahwa Tuhan selalu menyertai dan memampukan. Apa yang dipercayakannya kepada kita lewat pekerjaan dan bisnis, tentunya juga Dia lengkapi hidup kita dengan berbagai pengetahuan dan ketrampilan yang perlu kita pelajari.
Namun seiring dengan berjalannya waktu, dengan berbagai kesuksesan yang didapatkan, Tuhan mulai dilupakan, dan semua diklaim sebagai hasil perjuangan dirinya sendiri yang cerdas dan memiliki banyak hubungan dengan berbagai orang hebat.

Dan pada saat terjadi keterpurukan, baru mulai berteriak meminta pertolongan Tuhan dan bahkan mulai menyalahkan Tuhan yang tidak juga hadir memberi pertolongan.

Tuhan adalah setia, dia tetap menyertai hidup kita sampai kapanpun, namun kita yang sering mengabaikannya dan bahkan melupakannya.

Tuhan tidak menjanjikan hidup yang selalu mulus tanpa halangan. Seringkali Dia mengijinkan berbagai ujian dalam hidup ini agar kita selalu bergantung kepadaNya, melibatkan Dia dalam setiap proses kehidupan kita, termasuk di dalam pekerjaan dan bisnis kita. Tuhan terlebih tau apa yang terbaik buat kita.

 

Jangan abaikan Tuhan dalam hidup kita, begitu juga di dalam pekerjaan maupun bisnis yang kita jalankan. Semuanya adalah titipan yang Tuhan percayakan kepada setiap kita.

Jadilah pengelola yang baik dengan selalu menyertakan Tuhan dalam setiap proses.
Jangan bilang,”Tuhan tidak mengerti apa yang saya alami,” atau bahkan “Apa iya Tuhan bisa pulihkan?”

Hey, bangun !!!!! Tuhan itu sumber kekuatan, alkitab itu sumber pengetahuan. Tidak ada yang baru di bawah matahari, semua Tuhan sudah sediakan!

Sertakan Tuhan dalam setiap proses kehidupan kita, apapun jabatan kita, apapun bisnis kita. Minta hikmatNya untuk dapat berjalan dalam rencanaNya. Hikmat Tuhan pula yang dapat membawa kita untuk belajar hal-hal baru, mengenal wawasan yang lebih luas lagi, dan bahkan Tuhan pun dapat mempertemukan dengan mentor-mentor yang tepat dan komunitas yang dapat memberikan pertumbuhan.

Beberapa ayat ini menjadi pengingat bagi hidup saya.

Mazmur 127: 1
Nyanyian ziarah Salomo. Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah , sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal  kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga

Yesaya 48: 17-18
17. Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, Yang Mahakudus, Allah Israel: "Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh. 18. Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai  yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti,

Bagian terakhir yang terpenting ada di Amsal 3:5-6.
Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.

Selamat mencoba dan alami transformasi dalam pekerjaan dan bisnis Anda.

Salam GLORY !