Seringkali seorang pebisnis begitu percaya diri dengan
pengalaman yang dimiliki selama bertahun-tahun dalam menjalankan bidang bisnis
yang ditekuninya selama ini.
Dengan pengalaman tersebut, mereka akan merasa orang lain
yang tidak berada pada bisnis yang sama dengan dirinya, tidak akan mengerti.
Dan kalopun beradu argumen, sang pebisnis yang jelas menguasai bidangnya,
karena sudah ditekuninya sekian tahun, bahkan lebih dari 1 dekade, akan merasa
dirinya sudah menjadi seorang yang ahli.
Pebisnis yang seperti ini biasanya sulit menerima masukan
dan saran atau bahkan usulan dari pebisnis lain yang bukan dari bidang sama.
Saran dari konsultan juga tidak akan diterimanya dengan mudah, terutama jika si
konsultan belum pernah menangani klien yang sama dengan bisnisnya.
Pebisnis yang sedang mengalami kesulitan dalam bisnisnya
seringkali mencari teman untuk diskusi, mentor untuk mendampingi, konsultan
untuk membereskan. Mengikuti berbagai workshop dan seminar untuk mencari jalan
keluar dari kesulitan yang dihadapi. Namun tidak mudah juga mereka menerima
masukan, karena faktor yang saya sebutkan sebelumnya, merasa sudah menjadi
ahli, dan orang lain tidak mengerti bisnisnya.
Akhirnya pebisnis tersebut akan berputar di kisaran badai
pergumulannya tanpa dapat melihat jalan keluar.
Pebisnis yang sedang berada di pusaran badai tidak akan
mampu untuk melihat permasalahan yang terjadi. Dirinya terjebak di dalam
rutinitas harian, meskipun dorongan untuk segera keluar dari benang kusut
permasalahan yang sedang terjadi juga besar. Berharap ada pihak luar yang
menariknya ke luar dan mengatasi permasalahan yang dihadapi. Kalopun ada
‘tangan-tangan’ yang ingin menariknya ke luar, ada keraguan besar dalam dirinya
sehingga dia tetap berada di dalam badai. Lalu, bagaimana jalan keluarnya?
Mungkin banyak dari teman-teman dalam komunitas yang
menyarankan untuk doa, dan bahkan mengusulkan puasa. Bagi yang sedang kalut,
bakal merasa tersinggung, karena yang diperlukan adalah solusi nyata di depan
mata yang bisa dilakukan.
Doa bukan solusi instant yang diharapkan.
Nah, di sinilah pertarungan antara GUT vs GOD.
GUT = a feeling or reaction
based on an instinctive emotional response rather than considered thought (perasaan
atau reaksi yang didasari oleh respon insting emosional bukan dari sebuah
pertimbangan yang berdasar)
GUT ini
timbul secara otomatis karena dasar pengalaman yang sering dihadapi.
Pertimbangan tindakannya seringkali bersifat respon yang emosional.
Ini
seringkali terjadi karena data pikiran yang dimiliki adalah pengalaman dari
melakukan hal yang sama selama bertahun-tahun.
Sesuatu
yang sebenarnya sungguh wajar, jika seseorang melakukan berbagai hal pada
bidang tertentu selama bertahun-tahun, dia akan menjadi ahli di bidang
tersebut, sehingga secara otomatis dia akan berespon seperti yang biasa
dilakukannya.
Yang
menjadi kendala adalah sulitnya bagi orang yang memiliki GUT yang kuat ini
untuk menerima berbagai masukan terkait perkembangan yang terjadi di
marketplace yang mempengaruhi bisnis yang dijalankan.
Perubahan
ekonomi global yang terjadi 10 tahun terakhir, tidak hanya disebabkan oleh
perkembangan teknologi digital. Customer and consumer behavior mengalami
perubahan, termasuk efek dari pandemi, yang mengharuskan berbagai bisnis
melakukan proses adaptasi. Kecepatan untuk melakukan penyesuaian bukan berarti
tanpa resiko, tapi tetap perlu dicoba. Kebiasaan dalam berbisnis yang biasa
dilakukan selama bertahun-tahun, mau tidak mau harus diubah agar dapat berhasil
memenuhi permintaan pasar. Jangan berharap hasil yang berbeda jika tetap
melakukan dengan cara yang sama.
GUT menjadi sesuatu yang dipertanyakan, dapatkah beradaptasi dengan cepat dan tepat mengikuti perubahan pasar?
GOD = sang pencipta, penguasa langit
dan bumi, sumber kehidupan, sumber kekuatan dan perlindungan, dan masih banyak
lagi yang Dia bisa lakukan, karena memang Dialah yang punya kuasa yang jauh
melebihi apa yang dapat kita bayangkan dan kita ucapkan. Dia yang setia tidak
pernah meninggalkan kita, Dia yang terlebih tau dan sanggup untuk memulihkan
hidup kita.
Namun
manusia seringkali lupa akan hal itu. Apa yang Tuhan titipkan lewat pekerjaan
dan bisnis yang dipercayakan kepada kita, dipegang begitu erat karena manusia
merasa itu adalah miliknya, hasil perjuangannya.
Kita
seringkali lupa bahwa Tuhan selalu menyertai dan memampukan. Apa yang
dipercayakannya kepada kita lewat pekerjaan dan bisnis, tentunya juga Dia
lengkapi hidup kita dengan berbagai pengetahuan dan ketrampilan yang perlu kita
pelajari.
Namun seiring dengan berjalannya waktu, dengan berbagai kesuksesan yang
didapatkan, Tuhan mulai dilupakan, dan semua diklaim sebagai hasil perjuangan
dirinya sendiri yang cerdas dan memiliki banyak hubungan dengan berbagai orang
hebat.
Dan pada
saat terjadi keterpurukan, baru mulai berteriak meminta pertolongan Tuhan dan
bahkan mulai menyalahkan Tuhan yang tidak juga hadir memberi pertolongan.
Tuhan
adalah setia, dia tetap menyertai hidup kita sampai kapanpun, namun kita yang
sering mengabaikannya dan bahkan melupakannya.
Tuhan tidak
menjanjikan hidup yang selalu mulus tanpa halangan. Seringkali Dia mengijinkan
berbagai ujian dalam hidup ini agar kita selalu bergantung kepadaNya,
melibatkan Dia dalam setiap proses kehidupan kita, termasuk di dalam pekerjaan
dan bisnis kita. Tuhan terlebih tau apa yang terbaik buat kita.
Jangan abaikan Tuhan dalam hidup kita, begitu juga di dalam
pekerjaan maupun bisnis yang kita jalankan. Semuanya adalah titipan yang Tuhan
percayakan kepada setiap kita.
Jadilah pengelola yang baik dengan selalu menyertakan Tuhan
dalam setiap proses.
Jangan bilang,”Tuhan tidak mengerti apa yang saya alami,” atau bahkan “Apa iya
Tuhan bisa pulihkan?”
Hey, bangun !!!!! Tuhan itu sumber kekuatan, alkitab itu
sumber pengetahuan. Tidak ada yang baru di bawah matahari, semua Tuhan sudah
sediakan!
Sertakan Tuhan dalam setiap proses kehidupan kita, apapun
jabatan kita, apapun bisnis kita. Minta hikmatNya untuk dapat berjalan dalam
rencanaNya. Hikmat Tuhan pula yang dapat membawa kita untuk belajar hal-hal
baru, mengenal wawasan yang lebih luas lagi, dan bahkan Tuhan pun dapat
mempertemukan dengan mentor-mentor yang tepat dan komunitas yang dapat
memberikan pertumbuhan.
Beberapa ayat ini menjadi pengingat bagi hidup saya.
Mazmur 127: 1
Nyanyian ziarah Salomo. Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah ,
sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal
kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga
Yesaya 48: 17-18
17. Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, Yang
Mahakudus, Allah Israel: "Akulah TUHAN, Allahmu, yang
mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau
di jalan yang harus kautempuh. 18. Sekiranya engkau
memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu
akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan
kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang
laut yang tidak pernah berhenti,
Bagian
terakhir yang terpenting ada di Amsal 3:5-6.
Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan
janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala
lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.
Selamat mencoba dan alami transformasi dalam pekerjaan dan
bisnis Anda.
Salam GLORY !