Tidak ada yang tidak mengenal kelompok Garudafood. Banyak dan beragam jenis penghargaan yang telah diraih atas prestasi dan dedikasinya bagi masyarakat. Produk yang dihasilkan selalu menjadi trend setter yang diikuti oleh para pesaingnya. Tidak heran banyak pengamat pemasaran yang selalu menyejajarkan perusahaan ini sebagai perusahaan ikon di bidangnya. Garudafood menjadi yang terdepan.
Mengulas kepiawaian Garudafood dalam mengolah kebutuhan pelanggan menjadi sebuah produk makanan bukan pekerjaan baru lagi. Daya inovasinya terbukti secara faktual di lapangan. Ia mampu menciptakan aturan pertandingan. Tidak heran kinerjanya menjulang tinggi secara asimptotis. Angka metriks keuangan dari neraca dan laporan rugi laba menunjukkan sebuah pertumbuhan yang teatrikal untuk ukuran Indonesia. Kinerja yang cemerlang itu mendatangkan penghargaan bagi sang komandan, Sudhamek AWS sebagai Ernst&Young’s Indonesia Entrepreneur of The Year tahun 2004. Pak Dhamek begitu sapaan akrab Sudhamek AWS mewakili Indonesia di ajang bergengsi pada tingkat dunia di Monaco.
Semua kinerja dan penghargaan dicapainya bukan berkat yang sesaat, tetapi sebuah akumulasi kerja keras dan kerja pintar selama puluhan tahun. Ia menguasai industri yang digelutinya itu mulai dari hulu hingga ke hilir secara cermat dan matang. Dari pemasok sampai ke penyalur dibenahi secara tertib dan sistimatis.
Dari penelitian dasar, penelitian aplikatif, sistim produksi, strategi pemasaran dan aspek distribusi dan logistik sampai ke tingkat penyalur ditata secara apik sehingga menghasilkan sebuah kinerja yang mantap dan mampu bertahan dalam jangka panjang (sustainable performance). Bagi penulis, semua hal di atas adalah bagai sebuah struktur yang kuat, desain interior yang indah dan nyaman di sebuah rumah bisnis yang bernama Garudafood.
Benarkah hanya penataan inftrastruktur dan suprastruktur yang membuat Garudafood pantas disebut panutan sebagai penggerak industri makanan dan minuman? Bagi saya jawabannya adalah tidak. Kalau sekedar hal tersebut, Garudafood hanya menjadi perusahaan yang ’excellent’ secara metriks keuangan yang dengan mudah akan dilampaui perusahaan lain dalam besaran bilangannya.
Yang menarik adalah Garudafood dibangun oleh sebuah kekuatan yang besar yang ada ’di dalam’ yang tak mudah ’dikalahkan’ oleh banyak pesaing. Sebuah kekuatan ’nilai’ yang jauh lebih sahih dari kekuatan bilangan. Sebuah kekuatan yang tak dapat dibandingkan dengan pihak lain, ia hanya bisa dibandingkan dengan dirinya sendiri. Sebuah kekokohan yang tak mudah lekang oleh waktu karena ia bersumber pada diri sendiri. Tak silau oleh kebesaran bilangan. Ia menjadi pagar yang efektif dari sebuah pertumbuhan kinerja. Kesadaran bahwa ’cukup’ adalah sebuah kata yang berarti bagi sebuah pilihan yang secara sadar dilakukan.
Kekuatan itu dimulai dari ’roh perusahaan’ (the spirit of the firm), yang memiliki jangkar (anchor) yang sangat erat dan lekat dengan sebuah prinsip kebenaran universal yang paling mendasar. Roh ini dihayati pada tingkat amalan oleh pendirinya yaitu Dharmo Putro (1917-1986). Dalam bahasa penerusnya, anak-anak dan cucunya, keyakinannya itu diberi bingkai Founder’s Spirit.
Sukses itu lahir dari kejujuran, keuletan dan ketekunan yang diiringi doa.
(That which we call success is born through honesty, persistence, commitment in the light of constant prayer).
Sebuah maklumat yang sangat sederhana. Tidak berbelit dan mudah dimengerti. Namun, justru dalam kesederhanaannya, ia mengandung makna yang tak lekang oleh usia. Ia mampu menerobos batas waktu dan tempat.
Bagi mereka, ”Sukses itu lahir (that which we call success is born)” artinya bukan merupakan sebuah pabrikasi, modifikasi, rekayasa, permak dari sebuah produk invalid. Lahir berarti sebuah proses di dalam kandungan dalam satuan waktu tertentu, sembilan bulan misalnya. Tidak cepat saji (instant) tapi sebuah pergulatan mati hidup bagi bunda yang mengandung. Kelahiran memiliki sebuah resiko kematian bagi sang bunda dan ketidak sempurnaan jabang bayi karena faktor teknis rasional maupun kebesaran anugrah spiritual. Semua serba kompleks, tapi bersumber pada sebuah keinginan yang mendalam, menghasilkan sebuah jabang bayi yang menjadi perekat kebahagiaan antara ayah dan bunda.
Dari keempat nilai tersebut, nilai kedua (keuletan) dan ketiga (ketekunan) adalah sebuah norma manajerial wajar yang banyak perusahaan dan pemimpin juga menekankan nilai ini. Kedua nilai tersebut dalam bahasa Garudafood, akan mendorong perusahaan dan karyawan menjadi sebuah organisasi dan pribadi yang dinamis (dynamic).
Sedangkan nilai pertama (kejujuran) dan nilai keempat (doa) tidak banyak perusahaan ataupun pemimpin yang berani secara eksplisit dan serius menekankan untuk dirinya sendiri dan orang lain. Dua buah nilai yang sarat ’roh’ bukan sekedar sifat dan sikap hidup. Kedua nilai ini – sebagai pembungkus dari nilai kedua dan ketiga – adalah nilai yang membawa manusia pada tahap kedamaian (peaceful). Ini adalah nilai pembeda bagi perusahaan ini, dimana Spirituality at Work benar-benar dijalankan bukan hanya sebuah wacana. Kesuksesan yang membawa kedamaian, bukan sekedar kebesaran, kemegahan, kepopuleran tapi sebuah ketenangan hati.
Dengan dasar ’founder’s spirit’ tersebut, diletakkanlah seluruh misi dan visi perusahaan yang memiliki jiwa (the soul of the firm) yang sangat melekat pada roh tersebut. Ia bukan sekedar kata-kata indah yang dibingkai dan ditatah rapi dalam monumen batu indah yang mati. Tapi ia adalah ’the soul’, menjiwai semua pertanyaan tentang eksistensi perusahaan dan ekspansi yang akan dijangkau. Ia adalah pagar yang membuat tubuh (the body of the firm) bergerak sesuai dengan tuntutan jiwa dan tuntunan roh.
:
The Soul of the Firm: Garudafood
MISSION STATEMENT:
· To satisfy our customers by providing:
o Quality food and beverages free from animal derivatives
o Quality consumer products and services free from willful destruction of animal life;
· To create a community where employees grow together and develop the quality of their life, their working life and work itself;
· To create sustainable mutual relationships with all business partners; and
· To increase quality returns to shareholders;
· by implementing sound business ethic and good corporate governance.
MISI GARUDAFOOD:
• Memuaskan konsumen dengan menyediakan:
- Produk-produk makanan & minuman berkualitas yang
tidak mengandung unsur hewani
- Produk-produk konsumsi dan layanan berkualitas yang
bukan berasal dari bahan-bahan yang merupakan hasil pengorbanan hewan atas kehendak perusahaan
• Membentuk komunitas karyawan untuk tumbuh bersama dan mengembangkan kualitas kehidupan, lingkungan kerja dan pekerjaan para karyawan;
• Menciptakan kemanfaatan jangka panjang yang berkesinambungan dalam hubungan antara perusahaan dengan seluruh mitra usahanya;
• Meningkatkan nilai tambah bagi pemegang saham;dengan menjalankan etika bisnis dan pengelolaan perusahaan yang baik.
VISION STATEMENT:
To be one of the best food and beverage companies in Indonesia in terms of profitability, revenue and customer satisfaction through the creative and innovative work of all knowledge workers.
VISI GARUDAFOOD:
Menjadi salah satu perusahaan terbaik di industri makanan dan minuman di Indonesia dalam aspek profitabilitas, penjualan dan kepuasan konsumen melalui karya yang kreatif dan inovatif dari seluruh karyawan yang kompeten
Sebagai seorang pengamat dan praktisi di bidang pengembangan manajemen, penulis sangat jarang menemukan sebuah misi dan visi (the soul of the firm) yang dengan tajam merumuskan nilai fundamental yang sangat eksplisit seperti itu. Sebuah keberanian yang bagi banyak pengusaha adalah sebuah pembatasan yang tak perlu. Tapi bagi Garudafood, nilai selalu lebih tinggi daripada bilangan.
Keyakinan yang dianut dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya baik untuk diri sendiri tapi juga baik bagi orang lain. Sebuah kepribadian tunggal antara nilai yang dianut dan usaha yang dijalankan. Apa yang tidak diyakini sebagai kebenaran tidak layak untuk diusahakan dan dipasarkan karena orang lain membutuhkan. Sudhamek berujar : ”Mata pencaharian yang benar adalah mata pencaharian yang memberikan maslahat yang baik bagi manusia namun tidak merugikan mahluk hidup lainnya, tidak mencelakakan, tidak menyakiti dan membuat pihak manapun menderita”.
Memuaskan pelanggan adalah satu hal penting tapi bukan dengan serta merta. Unsur hewani dan pengorbanan hewan atas kehendak perusahaan bertentangan dengan nilai yang mereka anut. Demikian dalamnya intensitas mereka akan nilai ini, mereka merumuskan lima bidang yang tidak akan pernah dimasuki sekalipun kelihatannya hasilnya menggiurkan. Sebuah keyakinan yang ingin dijalankan tanpa banyak bertanya ’mengapa’. Sebuah ketaatan tanpa pertimbangan ekonomi, tapi pertimbangan nilai itu sendiri.
Dengan memiliki ”The Spirit of The Firm” yang sangat kuat, yang mendasari terbentuknya ”The Soul of The Firm” yang sangat eksplisit, maka Garudafood dengan mudah merumuskan “The Body of The Firm” dalam bentuk portofio bisnis yang sejiwa dan se-roh dengan nilai dasar yang dianutnya.
”Semua boleh dilakukan, tapi tidak semua mendatangkan kedamaian – peaceful”, ujar Sudhamek lagi tanpa bermaksud berfilsafat. Dengan dasar itu, GF merumuskan tujuh hal, yang disebutnya sebagai panca sila plus dua, yang harus dihindari dalam hal portofolio bisnis.
Bisnis senjata yang sering dihubungkan dengan pembunuhan, setidaknya dengan tindak kekerasan atau penganiayaan. GF tidak akan pernah membuat dan memasarkan secara langsung bentuk senjata dan racun yang fungsi utamanya adalah untuk melakukan pembunuhan dan atau penganiayaan terhadap mahluk hidup misalnya senjata api.
Bisnis mahluk hidup dalam arti memperdagangkan hewan apalagi untuk disembelih dan eksploitasi manusia seperti pada praktek perbudakan, menjual bayi, anak dan wanita, termasuk pelacuran terkecuali jasa pengerah tenaga kerja dengan mata pencaharian yang tidak melanggar hukum. GF tidak akan melakukan usaha peternakan dan perdagangan hewan hidup.
Bisnis yang mengandung unsur hewani. GF tidak akan memproduksi dan mendistribusikan secara aktif produk yang berasal dari pengorbanan hewan atas kehendak langsung perusahaan. Misalnya produk ’corned beef’, ayam potong, abon sapi, abon ayam dan ’flavour house’ dengan bahan baku dari unsur hewani.
Bisnis minuman keras yang mencakup narkotik, obat psikotropika dan zat adiktif seperti bir, whisky dan rokok. Mengkonsumsi bahan tersebut bukan hanya menimbulkan ketagihan dalam hal badani tapi menyebabkan perubahan perilaku pada pengguna baik pada tataran jiwa maupun rohnya seperti kecenderungan menghabiskan kekayaan, menambah pertengkaran, membuat mudah terkena penyakit, hilangnya watak baik, menampilkan diri secara memalukan, melemahkan daya pikir atau mengurangi kecerdasan.
Bisnis racun yang berfungsi untuk membunuh dan menganiaya hewan secara langsung seperti obat pembasmi serangga. Yang masih dapat ditolerir adalah kapur barus misalnya, karena fungsinya hanya mengusir serangga bukan membunuhnya.
Bisnis Perjudian yang berakar pada keserakahan dan kebodohan . Bahaya dari perjudian adalah jika menang akan dibenci orang yang kalah, jika kalah akan menyesali kehilangan hartanya, dengan menghamburkan harta akan jatuh miskin, hingga di pengadilan ucapannya tidak dapat dipercaya orang lain, dipandang rendah oleh kawan dan pejabat pemerintah dan tidak disukai oleh orang yang mencari menantu karena tidak dianggap dapat memelihara keluarga dengan baik.
Bisnis Plesiran dengan acara yang merangsang nafsu syahwat yang rendah. Bahaya plesiran adalah membuat manusia tidak terjaga dan terlindung dengan baik, anak dan pasangannya tidak terjaga dan terlindung dengan baik, hartanya tidak terjaga, sering dicurigai sebagai pelaku kejahatan, menjadi sasaran desas desus dan menghadapi banyak kesulitan lainnya.
Karena adanya ’Spirit dan Soul’ yang pada akhirnya membatasi ’Body’ ini maka yang sudah dijalankan secara konsisten ini membuat mereka dikenal dengan perusahaan yang memiliki karakter yang tidak berhubungan dengan kekerasan. Ketiganya telah menjadi ’ecosystem brand’ yang lebih kuat dari ’company brand’ apalagi hanya dengan product brand’. Ketiganya memulas wajah GF menjadi wajah yang sarat dengan nilai walaupun mereka juga tidak menaifkan bilangan. Namun dengan sebuah dasar yakni keuntungan yang didasari dari bisnis yang bernilai moralitas dan spiritualitas disamping sebuah kecemerlangan sistem dan proses.
Kala itu sudah menjadi ’spiritual brand’, Sudhamek atau GF pun tak mampu berkilah jauh. ”Spiritual Brand’ sudah menjadi milik masyarakat. Bila ada tindakan pengurus yang dianggap bertentangan dengan nilai itu, maka protes akan mucul. Para pemangku kepentingan akan bergejolak karena mengganggap pengurus ingkar nilai dari sesuatu yang mereka rasa sudah menjadi miliknya.
Pengalaman ini pernah dirasakan oleh GF. ”Suatu saat GF menjadi sponsor sebuah acara olah raga tinju di sebuah stasiun televisi. Saya tidak pernah berpikir bagi hal itu merupakan sebuah acara yang tidak seirama dengan citra GF. Saya mendapat banyak kritik dan protes dari berbagai rekan karena menganggap acara ini menayangkan sosok kekerasan walaupun dalam konteks olah raga yang terkontrol dengan sistim yang cukup baik. Bagi banyak rekan, GF tidak pantas mensponsori acara seperti ini. Sayapun dengan segera membatalkannya”, kenang Sudhamek.
Bukan hanya hal kecil seperti itu, tantangan terbesar justru datang tatkala proyek 2 Trilliun Rupiah harus ditolak hanya untuk pengamalan sebuah nilai. Memang nilai kadang tak terukur oleh bilangan. ”Ada pabrik rokok yang mau dijual dan sebetulnya di Industri rokok masih ada peluang menarik. Dengan kemampuan pemasaran dan jaringan distribusi yang kebetulan kami miliki serta salah satu pabrik rokok terbesar sedang kelihatan tertidur, kami yakin bisa merebut pangsa pasar katakanlah sebesar 2 %. Itu berarti 2 Trilliun Rupiah”, tulis Sudhamek dalam sebuah SMS (Short Messaging Services) suatu sore. ”Peluang itu akhirnya tidak kami ambil. Dalam pandangan kami, rokok itu meracuni kesehatan manusia”, tambahnya lagi tanpa ada rasa menyesal.
”Sebetulnya masih banyak peluang lain yang juga tidak jadi diambil, seperti misalnya bisnis sarang burung”, tambah Pak Dhamek dengan antusias. ”Dalam pandangan kami, mengambil sarang burung itu adalah sebuah kekerasan. Untuk membangun ”rumahnya”, Si burung harus ’ngiler’ setetes demi setetes, bahkan kadang berdarah-darah. Eee, manusia enak saja tinggal mengambilnya. Hehehe”, kali ini secara jenaka tapi serius ia kembali membuat tersentak saya dan istri saya.
Istri saya ikut bergumam tatkala saya menunjukkan SMS beliau. ”Lho, kan burungnya ’ngiler’ tanpa dipaksa. Apanya yang disebut kekerasan?”, tanyanya lagi. ”Nah, itu persoalan teknis, yang saya kagum adalah prinsipnya. Soal benar atau salah bisa diperdebatkan. Yang penting soal proses pemikirkan akan nilai sebuah kekerasan yang memang amat relatif”, saya mencoba menerangkan. ”Nilai memang sesuatu yang harus diperjuangkan walaupun kadang tidak populer dan mengikuti ’main stream’. Saya ikut kagum dengan mereka. Ndak banyak pengusaha kalangan ’kita’ yang berani memegang nilai seperti itu”, kali ini istri saya berkomentar bak seorang resi.
Tidak gampang memiliki sebuah nilai hidup, apalagi mampu mengartikulasikan dan menjalankan secara eksplisit dalam dunia bisnis yang acap kali tak mementingkan sebuah nilai. GF adalah sedikit dari perusahaan yang layak dijadikan panutan. Bukan soal benar salah, baik buruk dan pantas atau tidak tapi sebuah keyakinan yang ingin dijalankan secara konsisten. ”Walk the Talk”.
Inspirasi:
Apakah Anda memiliki nilai yang dicerminkan pula dalam misi, visi dan aksi perusahaan yang Anda miliki? Sampai seberapa dalam, Anda merumuskannya?
Menurut pendapat anda, aplikasi penerapan nilai yang membatasi bidang usaha dan membatasi aktivitas sepantasnya dilakukan oleh seorang pengusaha? Sampai sejauh mana nilai dan iman mempengaruhi usaha dan pekerjaan sehari-hari?
Kalau Anda mengalami konflik dengan mitra usaha Anda tentang nilai dan perkembangan usaha, langkah apa yang akan Anda ambil? Apakah Anda akan kompromsi? Apakah Anda akan berpisah dengan mitra anda?
Apa yang akan Anda lakukan apabila nilai yang Anda anut justru membuat perusahaan tidak semamin berkembang?
Menyimak kasus ini, adakah hal yang ingin Anda contoh dan terapkan dalam kehiduapna bisnis anda?