Saya (penulis) mengenal secara pribadi Arief Harto Kusumo—PT Angkasa Tunggal Sukses—sejak dia ikut aktif dalam kelompok pemuridan Biz4JC. Prinsip hidupnya yang amat militan inilah yang membuat ia tampil sangat berbeda dengan pengusaha lainnya. Sifatnya itu sangat menarik.
Setelah mengenyam pendidikan dan pelatihan di Jepang selama lebih 12 tahun, ia berketetapan hati kembali ke Indonesia pada tahun 1996. Tindakannya itu merupakan langkah yang tidak rasional karena ia mudah dan cepat mencapai kehidupan yang mapan di negeri Sakura itu. Gaji tinggi dan posisi yang tak mudah diraih oleh profesional berkebangsaan Indonesia ditinggalkannya di Jepang. Ia terdorong penuh idealisme yang memotivasi dan memulai kehidupan dari nol di Indonesia.
Ia ingin menjadi pengusaha dan bukan sebagai pegawai perusahaan. Untuk itu ia bersemangat ketika harus merangkak mencari dan membentuk jaringan baru di negara yang dicintainya. Cita-citanya adalah ikut membangun industri aerosol karena jumlahy bahan baku dasar sangat melimpah di Indonesia.
”Dari orang tua dan keluarga saya tidak ada dukungan dana, apalagi dari orang lain. Keadaan saya sama sekali tidak mempunyai apa-apa,” tuturnya suatu saat dalam percakapan dengan penulis. ”Kata orang Jepang, kalau mau produksi barang harus mempunyai barang, orang (karyawan) dan uang. Saya tidak memiliki ketiganya,” imbuhnya tanpa nada mengeluh.
Kondisi itu dilaluinya selama beberapa tahun tetapi dia pantang menyerah. Ia mulai membangun kepercayaan sahabat baru yang dikenalnya di Jakarta. Pengalamannya sebagai ahli pembuat aerosol di Jepang, sangat berperan ketika bertemu dengan beberapa mitra yang mengajaknya bekerja sama. Ringkas cerita, ia mulai mengerjakan proyek yang diselesaikan dengan baik sehingga mudah lagi mendapatkan proyek-proyek baru. Sebagai konsultan tanpa modal, ia melangkah dan bejerha tanpa mengenal lelah. Tujuannya hanya satu, bercita-cita untuk memiliki dan mengoperasikan sebuah pabrik aerosol.
Beberapa tahun kemudian, ia memberanikan diri mengajukan proposal kemitraan dengan beberapa rekan yang dianggapnya pantas untuk dijadikan mitra usaha. ”Saya pernah berpikir mengharapkan bekerjasama dengan teman anak pengusaha besar yang memiliki lebih 40 pabrik dan untuk ukuran Indonesia, ayah teman itu kelas konglomerat papan atas. Namun, saya justru kecewa,” tuturnya sambil menatap serius para peserta pemuridan di kantor penulis beberapa tahun lalu.
”Akhirnya, saya melupakan rekan yang saya anggap bisa menolong. Saya kembali hanya mempercayai Sang Pencipta yang sangat mengasihi saya. Pengharapan hidup saya satu-satunya hanya kepada Tuhan,” katanya dengan bola mata yang sedikit memerah.
“Langkah demi langkah saya lakukan. Saya mulai bercita-cita kapan terealisasi untuk mendapat mesin-mesin gratis. Saya menunggu selama 7 tahun. Kejadiannya amat mengejutkan, dan ini adalah salah satu mujizat besar dalam hidup saya.”
Tahun 2000, mantan direktur saya, Mr Sato mempunyai kenalan pemilik pabrik aerosol yang nama perusahaan itu adalah Cosmetics Corporation yang berlokasi di kota Noda, Perefektur Chiba. Ia memberi informasi tentang adanya mesin pabrik yang akan dihibahkan kepada siapa saja. Penyebabnya, karena lokasi industri di kota itu akan dibangun jalur kereta api. Industri harus segera direlokasi. Mr Sato, mengirimkan foto dan daftar mesin yang dapat diambil. Semua mesin bisa diambil gratis tanpa biaya. Yang merisaukan pemilik pabrik itu cuma kekhawatiran terjadi bahaya ketika mesin-mesin dibongkar ada orang yang terluka. Perusahaan bisa mendapat resiko dituntut di pengadilan. Namun, entah kenapa, pemilik pabrik itu menyetujui permintaan Pak Arif lewat Mr Sato. Tahun 2001, Pak Arif mulai melakukan relokasi. Izin pemerintah Jepang dan Indonesia didapatkan tanpa kesulitan yang berarti. Bila dinilai dengan harga baru, mesin tersebut berharga kurang lebih Rp1,5 miliar, dan ia tak mengeluarkan uang sepeserpun.
Sebuah cahaya mulai bersinar. ”Ini seperti mimpi. Tak dapat saya bayangkan semua berjalan seperi sebuah sinetron TV,” tuturnya dengan mimik serius. ”Mengapa saya berkata demikian? Karena yang memberi adalah orang Jepang yang pada umumnya adalah orang yang pelit atau kikir. Saya tidak mengenal pemilik mesin-mesin sewaktu mendapat info adanya mesin yang akan direlokasi ke negara lain tanpa biaya. Bagi saya kejadian itu suatu peristiwa yang tidak masuk akal sehat tetapi pada waktunya hal itu terjadi bagi saya,” katanya bersemangat yang disambut tepuk tangan meriah anggota pemuridan.
Sejak saat itu, Arief semakin menunjukkan pemantapannya dalam menapaki bisnis dengan bimbingan Tuhan. Ia berprinsip bahwa, ”Siapa berhutang akan menjadi budak yang menghutanginya”. Oleh karena itu, sejak mengawali bisnisnya, tekad berbisnis tanpa hutang dicanangkannya. Mendengarkan tekadnya itu, ia di cemooh keluarganya, dan rekan pengusaha yang menyatakan bahwa dia tidak mengerti berbisnis. ”Hutang akan mempercepat perkembangan perusahaanmu. Tanpa hutang engkau akan berjalan di tempat,” saran beberapa rekannya. Namun, ia tak bergeming dan tetap berprinsip sesuai kata hatinya.
Kebutuhan pendanaan jelas diperlukan untuk investasi dan modal kerja yang didapatkannya dari rekan dengan prinsip kemitraan. Mereka komit berbagi resiko, keuntungan dan kepemilikan. Cara itu dibuat oleh orang yang memiliki jiwa besar yang tak banyak dimiliki oleh pengusaha muda dan sedang menanjak. Orang muda zaman sekarang mempunyai kebiasaan ingin menguasai, memiliki dalam waktu singkat tanpa memikirkan untuk membagi keuntungan besar dengan cara kemitraan biasa. Orang muda berprinsip lebih menguntungan meminjam dengan bunga tertentu. Namun, Arief bersikap hidup lebih kuat dari dorongan keuntungan yang menerpanya.
Sejak bermitra dengan pengusaha lain, ia telah memiliki delapan mitra yang mengerjakan beberapa proyek. Ia masih sama seperti semula tanpa hutang. Perusahaannya terus berkembang yang awsalnya baru mengerjakan satu produk pada tahun 2003 yang dikerjakan dengan mensubkontraktorkan semata-mata karena belum memiliki tempat untuk mengoperasikan usahanya. Bagaimana cara mengatasi masalah tempat usaha?
Ia memikirkan sebuah solusi yang tak terbayangkan sebelumnya. ”Penjara, yah penjara. Penjara memiliki tanah dan sumber daya manusia yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan produktif. Kenapa tidak!” pikirnya suatu kali. Dengan hati yang bersih dan nurani yang tulus ia ingin meingkatkan harkat para napi di penjara. Setelah mengutarakan rencana, proposalnya disetujui oleh kepala penjara. Pada Desember 2003, ia mulai memasang mesin yang dihibahkan oleh pengusaha Jepang itu kepadanya di sebuah kompleks penjara. Luas tanah yang dibutuhkan lebih dari kebutuhannya yakni seluas 350 m2.
Ia merenovasi lokasi dan mencari suku cadang tambahan agar seluruh mesinnya dapat difungsikan secara baik selama 8 bulan. Pada Agustus 2004, ia memulai era baru dengan mengoperasikan PT Angkasa Tunggal Sukses. Ia mulai memproduksi produk pertama di dalam tembok penjara dengan mempekerjakan 12 orang narapidana sebagai karyawan yang dibina dalamn waktu relatif singkat.
Ia sangat bahagia ketika melihat wajah-wajah ke-12 napi yang bekerja dengan gembira dan penuh pengharapan. Arief berkata kepada para napi itu, bahwa selalu ada kehidupan yang lebih baik di luar penjara asalkan mau mencari dan tidak putusasa. Ketrampilan yang telah dimiliki para napi merupakan bekal dan dapat memotivasi mereka untuk bekerja mencari uang secara halal.
Pada tahun 2004, ia mulai membuat diversifikasi produk menjadi 4 yang dinamai Lubricants, Silicon Spray, Leave Shine, dan AC Clean. Selama dua tahun, ia melakukan program kerja sama. Sambil membina para napi di penjara, ia mulai menyisihkan sebagian keuntungannya yang kemudian berhasil membeli tanah yang layak sebagai lokasi industri pada Desember 2005. Hatinya sangat berat memindahkan seluruh mesin dari penjara ke lokasi pabrik baru di desa Cisao Bumi Serpong Damai Banten. Oleh karena usahanya berkembang, maka lokasi tidak mungkin dipertahankan di penjara. Tujuan semula adalah ingin memanusiakan para napi, akan tetapi misi mulia bisa disalahartikan oleh pihak lain seolah-olah memanfaatkan penjara dan para napi.
Pada Agustus 2006, kinerja pabrik lebih layak di di lokasi baru. Ia terus berinovasi dan hasilnya adalah 9 produk yang diproduksi. Lima produk baru adalah Hand Sterilizer, Air Dessinfectant, Valve and Injection Cleaner, Cetane Booster dan Water Cut. Semua produk itu dipasarkan dengan brand Power Spray.
Keberhasilan mendapatkan mesin hibah yang kemudian menghasilkan 9 jenis produk bermerek, dinamai sebagai episode satu yang dilalui dengan baik penuh sukacia. Betapa tidak, ia bertemu dan berkenalan dengan orang-orang yang sangat membantu usahanya. Selanjutnya, ia memimpikan episode kedua yang tak kalah hebat dalam hal terobosan pola pikir dan pola tindak. Ia ingin mengangkat harkat para karyawannya menjadi mitra bisnis yang sejajar dan masing-masing sebagai share holders.
Untuk mendukung pengembangan perusahaannya yang ternyata membutuhkan industri pendukung, Arief berfikir momen itu dapat dijadikan mengembangkan industri yang mandiri pada beberapa tahun ke depan. Ia menjelaskan konsepnya kepada para karyawannya yang diharapkan mulai menabung untuk diinvestasikkan pada industri. Ia demikian berambisi agar setiap karyawan memiliki saham di perusahaan. Prinsipnya jika ia bisa tumbuh bersama karyawan, perusahaannya tidak harus mengandalkan mitra lain dan pinjaman dari bank. Apakah gagasannya dapat diwujudkan sebagai kenyataan bukan sebagai ilusi belaka?
”Kalau saya tidak mendengar langsung cerita Pak Arif, mungkin masih seperti mimpi,” komentar Yohanes Eka Prayuda salah satu peserta kelompok pemuridan. ”Sesuatu yang bukan hanya jarang saya dengar, tapi membaca sebuah cerita dengan gaya begini saja saya belum pernah,” imbuhnya tanpa bermaksud mendramatisasi persoalan. Menaggapi pendapat Yohanes itu, ”Semua terjadi karena anugrahNya. Kita harus berani berbagi dengan orang lain. Buat apa semua itu jika hanya untuk diri sendiri?” jawab Arief tanpa sedikit pun bernada menyombongkan diri.
Arief terus melaju bukan menambah jumlah perusahaan bagi dirinya akan tetapi menambah jumlah perusahaan bagi seluruh komunitas yang terlibat di perusahaannya. Ia menjalankan apa yang ia percayai. Walk the talk. Arif dikenal sebagai sosok pengusaha yang tidak membedakan karyawan. Contohnya ketika makan siang bersama dengan seluruh karyawan. Mulai dari pimpinan tertinggi hingga karyawan pada posisi terendah sama-sama menikmati lauk yang sejenis dan hal itu wajar diterapkannya di perusahaan.
Arief tidak berhenti untuk bermimpi. Ia memikirkan bentuk kehidupan berikutnya yakni episode ketiga dan keempat yang akan dilaluinya. Namun, di atas seluruh kepentingan bisnisnya, suami Tjung Ping Ling yang dinikahinya tahun 1990 di Tokyo itu tetap menomorsatukan pelayanan kepada Tuhan. Pasangan ini dianugerahi buah kasih masing-masing dipanggil Veronica dan Deborah. Sebagai pendeta ia melayani jematnya melalui Gereja Injil Sepenuh Indonesia di Jakarta Barat sedangkan sebagai pengusaha (Pdp) Arief Harto Kusumo melayani para pebisnis dan mitra lewat perusahaannya.
Inspirasi:
Apakah menurut Anda nilai yang dibangun Pak Arief sebuah nilai wajar atau sebuah nilai ekstrem?
Berkembang tanpa hutang, sampai sejauh mana Anda membatasinya? Hutang mana yang sebaiknya dibatasi dan hutang mana yang tidak perlu ada pembatasan khusus?
Bagaimana konsep hutang Anda (kuantitas dan kualitas) sehingga tetap dapat dijaga kemampuan untuk bayar dan kemampuan untuk berkembang?
Bagaimana mengembangkan program kemitraan dengan investor yang paling aman bagi Anda sebagai pemilik perusahaan?
Bagaimana konsep Anda mengembangkan karyawan sebagai calon investor dan mitra dalam perusahaan Anda? Apakah ini sesuatu yang mustahil dilakukan?