Beranda Articles Menemukan Karyawan yang menjadi Domba yang Baik

Menemukan Karyawan yang menjadi Domba yang Baik

Kisah Sukses Aplikasi Built to Bless Kamis, 05 November 2020 6 menit baca

            Banyak yang tidak percaya, bahwa karir justru sering tidak bisa direncanakan. Sering terjadi banyak kejutan dalam hidup yang ternyata sangat berbeda dengan yang kita rencanakan. Dan anehnya pula, acap kali datangnya karir baru justru hadir oleh orang yang tidak kita perkirakan sebelumnya. Akibatnya, karir menjadi melompat lompat dan kita sendiri dibuat heran, kok bisa sampai disini ya ?
 
            Tapi setelah saya telusuri lebih dalam, kejutan dalam karir tidak terjadi secara kebetulan. Itu adalah hasil pembibitan dan penanaman yang kita lakukan tanpa kita sadari. Kita menanam banyak bibit pada banyak orang dalam berbagai situasi, yang akhirnya pada suatu saat yang tidak kita duga kita menuai hasil yang jauh lebih besar dari yang kita harapkan. Kita jadi terhenyak dan terkesima. Ternyata kita berada di tempat yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan orang lain yang kita kira kerja lebih keras.
 
            Farhan misalnya, pemuda ganteng yang berkarir sebagai ticketing counter sales di Garuda cabang Kelapa Gading tak pernah tahu siapa yang dilayani siang itu. Saya dengan penampilan sederhana berusaha mendapat tiket gratis alias redemption ticket untuk penerbangan ke Semarang bersama keluarga. Layananan yang prima, menurut saya, dan usahanya untuk mendapatkan tiket dengan 'milage' termurah membuat saya terkesima.
 
            Sambil memerhatikan Farhan menyelesaikan tugasnya, saya menelpon rekan saya Elisa Lumbantoruan yang saat itu menjabat sebagai Direktur Keuangan Garuda. Saya katakan :'Bro, saya salut dengan team anda di Kelapa Gading. Tidak kalah dengan layanan SQ, tanpa sadar saya sudah membandingkan dengan airline lain. Namanya Farhan, dia superb dalam pelayanan hari ini, setidaknya ke saya. Mau bicara dengan Farhan ?'. Bro Elisa dengan tanggap mengucap terima kasih dan berbicara dengan Farhan. Tentu saya tidak tahu apa yang dikatakannya. Seusai bicara, saya bilang sama Bro Elisa :'Perhatikan Farhan ya Bro, bisa jadi contoh yang bagus. Anak masih muda tapi karakternya mantap'.
 
            Rupanya, ada rekan lain di 'counter' sebelah yang memerhatikan kejadian ini, namanya Anggy. Gaya Farhan menular ke Anggy. Kesempatan lain istri saya dan saya sendiri juga mendapat layanan prima dari Anggy. Artinya terjadi penularan yang positif.
 
            Nah, apakah Farhan dan Anggy pernah menduga bahwa namanya akan dikenal dengan boss petinggi Garuda ? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Tapi setidaknya, ia sudah berada di catatan petinggi Garuda, bukan hanya di benak kepala cabangnya saja. Saya yakin, peluang karirnya semakin terbuka di perusahaannya, bahkan kalau saya membutuhkan staf di hari kemudian saya akan cari Farhan dan Anggy. Tanpa sadar,  keduanya sudah membuka peluang lompatan karir yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.
 
            Lain lagi dengan Bang Algitha. Pekerjaannya sebagai pelayanan purna jual memang melelahkan. Menerima kritik dan masukan dari pelanggan bagi pembeli Sumarecon Bekasi sudah menjadi makanannya sehari hari. Ia tidak kelihatan tertekan bahkan sebaliknya bagi saya ia melakukannya dengan cermat.
 
            Saat itu tatkala kami melakukan inspeksi di rumah yang baru kami beli disana, Githa tidak hanya menunjukkan fungsi dan kondisi rumah. Ia bahkan memberi masukan agar beberapa hal yang kurang rapi di masukkan dalam 'claim' saja. Dua kali dalam dua kesempatan bertemu, saya terkesima. Seperti biasanya, saya selalu memberi pujian kepada rekan saya yang jadi pimpinan perusahaan yang memberikan pelayanan prima kepada saya. Siang itu juga, dalam peninjauan lapangan, saya juga menelpon Pak Johanes Mardjuki Presiden Direktur Sumarecon. Saya katakan :'Anda beruntung memiliki staf purna jual seperti Algitha'. Pak Jo, begitu saya memanggilnya, dengan cekatan mau berbicara dengan Algitha yang berada di samping saya. Algitha tentu terkejut.
 
            Sebelum pulang, ia menceritakan bahwa sebenarnya ia masih karyawan kontrak. Ini yang membuat saya semakin terkesima. Karyawan kontrak melakukan tugas penting di purna jual dan sudah berperilaku seperti karyawan tetap. Semestinya petinggi akan bangga dan membuka peluang lebar lebar padanya.
 
            Kerja keras Afung, Jusuf dan Sri rupanya berbuah indah. Mereka bermitra ingin berbisnis kopitiam dengan menjadi salah satu franchise saja. Dalam perjalanan waktu, rupanya terjadi ketidak nyamanan dengan Master Franchisornya. Mereka diperlakukan secara tidak menyenangkan. Kejadian ini tidak membuat mereka patah semangat, malahan membuat mereka bersemangat untuk maju terus, dengan mencari alternatif lain.
 
            Mereka tidak menyadari bahwa saat itu sebenarnya mereka sedang menuai buah. Bibit baik yang ditanam Sri dan Jusuf serta kegigihan Afung menembus batas ketidak mungkinan membuahkan hasil. Mitra mereka tertarik untuk mendukung, mereka berhasil menjadi Master Franchisor untuk seluruh wilayah Indonesia. Mitranya mempercayakan modal kepada mereka walaupun tahu bahwa yang mereka miliki hanya semangat bukan kompetensi dan pengalaman di bisnis makanan seperti ini.
 
            Sebentar lagi, outlet pertama mereka akan dibuka, dan Afung dalam suatu kesempatan makan siang di Sate House Senayan Cideng, berucap :'Saya heran, dapat mitra yang memercayakan uangnya dan perhatiannya pada kita yang tidak punya pengalaman. Suatu keberanian yang luar biasa'.
 
            Pertanyaaan refleksinya, apa mereka pernah merancang sebelumnya ? Apakah kondisi itu sebuah keberuntungan ? Bagi saya, itu bukan keberuntungan bagai menerima durian runtuh. Mereka beruntung karena mereka sebenarnya yang mempersiapkan kesempatan itu datang. Keberuntungan dalam bahasa Tionghoa terdiri dari dua kata yakni persiapan dan kesempatan. Persiapan adalah hal yang kita lakukan sehari hari dengan baik di tempat kerja kita masing masing. Tidak sembarangan karena kta bukan orang sembarangan. Tidak asal asalan karena kita diciptakan dengan Seksama dan cermat. Ketika persiapan yang tidak secara sengaja kita lakukan itu sudah matang, maka kesempatan akan datang. Ada orang atau kondisi yang membuka kesempatan itu bagi kita yang tidak mungkin dimiliki oleh orang yang tidak pernah bersiap.
 
            Itu sebabnya saya menyebutkan bukan sekedar keberuntungan tapi sudah masuk ke fase 'Baciato dalla Grazia' atau diterjemahkan secara bebas menjadi dalam pelukan anugerah.
 
Inspirasi :
 
Sebagai Gembala yang ada diatas tentunya kita tidak bisa mengikuti semua pergerakan petinggi yang dibawah dalam mengembangkan karyawan, bagaimana anda melakukan ‘monitoring’ agar kejadian seperti Farhan dan Algitha bisa sampai ke meja anda ?
Berapa banyak karyawan anda yang keluar yang akhirnya sukses berkarir di perusahaan lain yang anda sebagai pimpinan tidak mengetahui potensinya ketika mereka bekerja dibawah anda ?
Bagaimana anda menjadi Gembala bagi mitra bisnis, sehingga mereka merasa dipercaya sebagai bagian dari satu team yang kuat seperti kasus Jusuf dan Sri?