Kisah perpisahan antara pencetus, pemilik, pemrakarsa dan pengurus terhadap perusahaannya bukanlah kisah yang aneh dan mengada-ada. Dalam kondisi perekonomian global yang makin mengganas, pemilik akan senantiasa menfokuskan diri pada pendapatan optimal. bukan pada gengsi maksimal. Kelompok Sampoerna misalnya, merelakan perusahaan yang sudah digelutinya beberapa generasi diambil alih oleh perusahaan asing Philip Morris tanpa menimbulkan gejolak yang dramatis. Semua berjalan seperti biasa saja. Kalaupun ada riak dan kesedihan kecil, itu adalah letupan emosi yang wajar. Tapi pada akhirnya semua berjalan lancar tanpa hambatan.
TP. Rachmat tak segan melepaskan ADIRA Finance walaupun perusahaan itu peninggalan sang ayah (Adi Rachmat), karena meilihat perkembangan usaha yang tidak akan melaju bila tetap ditanganinya. Kebutuhan modal untuk memperbesar perusahaan semakin besar. Melihat kekuatan sendiri dan kebutuhan dana pada portfolio usahanya, iapun akhirnya mengambil sebuah keputusan rasional. Menjual kepada Bank Danamon dengan bilangan rupiah yang amat menggiurkan. Sekali lagi inipun sebuah keputusan tak mudah tapi juga tak dinaifkan.
Namun, kedua kisah tadi amat berbeda dengan berpisahnya Astra dari kepemilikan keluarga William Soeryadjaya. Jelas ini bukan kemauan si Om, begitu kami meemanggilnya, untuk mendapatkan uang keras untuk membeli jenis usaha lain. Juga bukan karena kesalahan Om sehingga menimbulkan kerugian besar, seperti yang terjadi pada saat krisis 1997. Tapi sebuah kejadian yang masih amat sulit ditanya : mengapa?
Masih banyak cerita di daerah abu-abu. Dari berbagai pihak, senantiasa melontarkan cerita yang sangat berbeda. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Semua keputusan sudah dibuat. Sejarah tak mungkin diulang. Fakta yang terjadi, pada bulan Februari 2003, si Om harus melepaskan kepemilikannya pada perusahaan yang amat dicintainya. Bagaimanapun prosesnya, caranya dan langkahnya, saat itu semua harus terjadi. Si Om harus mengosongkan meja kerjanya di Juanda 22 Jakarta, meninggalkan Astra dalam kondisi yang amat terpaksa.
Saya saat itu masih menjabat sebagai salah satu eksekutif di Astra International yang menangangi bidang pengembangan sumber daya manusia, mengerti apa arti sebuah perpisahan dengan perusahaan. Saya melihat banyak air mata berlinang tatkala saya harus menyerahkan uang pensiun sebagai uang pisah karyawan yang sudah mencapai usia pensiun. Sayapun mengerti bagaimana malunya seorang karyawan yang harus berhadapan saya untuk mendapat Surat Peringatan Ketiga atau surat pemecatan karena melakukan kesalahan. Pertemuan perpisahan dengan karyawan berakhir dengan senang, apabila perusahaan itu mengundurkan diri karena mendapat pekerjaan di tempat lain dengan kompensasi yang lebih tinggi.
Tapi kali ini, perpisahan dengan si Om bukanlah perpisahan karena ketiga hal diatas. Sebuah perpisahkan yang menyisakan sebuah pertanyaan besar dalam kehidupan penulis. Apalagi kalau dikaitkan dengan nilai yang dianut si Om, perpisahan ini seakan sebagai sebuah kenyataan yang tak seharusnya terjadi pada diri si Om. Saya teringat pengalaman yang tertulis di benak kalbuku :
Tak bisa kumengerti dengan akal sehatku, bahwa saat itu adalah saat aku merasakan sebagai saksi bisu yang tak bisa paham kenapa hal itu bisa terjadi. Sebuah perubahan sejarah yang meruntuhkan semua kedigdayaan masa lalu yang kukagumi. Pemilik perusahaanku harus hengkang. Yah, harus pergi tanpa sempat berpesan. Seperti orang mati karena sakit jantung tanpa ada tanda sedikitpun. Aku tertegun lesu.
Tatkala saya komentar beliau soal ini, Pak Edwin Soeryadjaya menulis ”Bagi saya, kejadian ini bukan sesuatu yang mendadak tanpa ada tanda tanda. Yang dapat saya share dalam hal ini adalah sebaliknya, karena sebetulnya, Tuhan sudah banyak memberikan peringatan peringatan. Namun, saya maupun ayah saya, tidak peka akan peringatan peringatan tersebut. Therefore, you always have to ask God for His guidance also, ask for His blessings that you have the ability to discern”.
Aku ingin semua itu hanya sebagai mimpi dan khayalanku di siang hari bolong. Aku ingin semua itu hanya sebuah drama dalam sebuah lakon di pentas Gedung Kesenian Jakarta. Tapi, semakin aku mencubit diriku sendiri, semakin aku sadar bahwa semua itu bukanlah sebuah mimpi. Aku melihat, perubahan demi perubahan terjadi. Aku sedih, tatkala mantan pemilik perusahaanku harus pergi mengosongkan ruang kerjanya. Masih tak kupercaya. Kenapa bisa terjadi?
”Ada berapa orang yang ngantor hari ini?”, teriakan yang sering kudengar pada hari sabtu ketika bossku masuk ke kamar kerjanya.
”Dua puluh tiga orang, Om – Begitu semua orang memanggilnya dengan akrab”, teriak Warno yang bertugas sebagai ’office boy’. Lalu ia merogoh kantong celana kanannya. Diambilnya uang dua puluh ribuan 23 lembar. ”Bagi deh, buat makan siang mereka”.
Warno tersenyum dan iapun menghampiri mejaku. ”Pak, ada titipan dari Si Om”, suaranya gembira sambil menyodorkan uang duapuluh ribuan itu. ”Wah, terima kasih yah”.
Sepuluh tahun sebelumnya saya belum dikenal si Om William, maklum saya masih ’trainee’ dalam sebuah pelatihan setahun untuk menjadi staf bidang ”Electronic Data Processing” perusahaan miliknya, yakni PT Astra International Incorporated.
Lamunanku terhenti. Kejadian itu tak mungkin terulang. Tanpa sadar ku rogoh kantongku mencari sisa duapuluh ribuan yang pernah diberikan si Om untuk makan siangku di hari sabtu. ”Ah, masih ada satu”, aku terhenyak sesaat.
Aku tak mengerti kala itu. Sepuluh tahun yang manis bersama si Om, harus berpisah dengan cara yang tak kuharapkan. Ia yang senantiasa menjadi idolaku saat itu. Sekarang aku tak dapat menemuinya setiap waktu. Ia sudah pergi jauh dari tempat kerjaku. Aku tak bisa mengerti.
”Kenapa mesti dia?”. Dia yang kuanggap pahlawan karena selalu meneriakkan slogan ’Ora et Labora’. Belum lagi pedoman berbisnisnya yang tak akan pernah kulupakan sampai saat aku melamun hari ini, aku masih mencatatnya dengan teliti :
· Hidup Om untuk orang lain, tidak memikirkan diri sendiri
· Selama Om hidup, Om akan menciptakan lapangan kerja baru
· Berterima kasih pada Tuhan atas kesehatan yang diberikan pada kita
· Orang kerja harus jujur dan rendah hati
· Perhatikan kesejahteraan karyawan dan keluarganya
Sekali lagi aku menggugat? Kenapa mesti dia?
Setahuku, ia adalah panutan yang memang mencari kedalaman dan keindahan dalam hidup. Perusahan dikembangkannya dengan para professional luar bukan anggota keluarganya karena ia ingin perusahaan ini maju. ”Menjadi milik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara”), bukan bermanfaat bagi dia dan keluarganya. Ia ingin ”Sejahtera bersama bangsa”, bukah hanya sejahtera bersama kroni-kroninya. Semua dilakukannya dengan landasan cinta.
”Nobody’s perfect”. Setiap manusia punya cela dan noda. Setiap manusia punya kekurangan. Tapi bagiku ia masih pantas dijadikan idola. Celanya, nodanya dan kekurangannya masih lebih pantas dibandingkan diriku. Ia tidak mencari cela dan noda, karena manusia yang masih makan nasi masih sering juga terdampar dalam sebuah titik kesalahan. Inipun kuanggap wajar untuk manusia yang hidup di kolong langit ini.
Sekali lagi aku menggugat, ”Kan masih banyak yang ”lebih kotor dalam cela dan noda” yang kelihatannya malah aman, sedang si Om, kok ceritanya malah begini. Aku semakin jauh dari Understanding (pengertian) apalagi sebuah Wisdom (kebijaksanaan) untuk mengerti apa yang sedang terjadi. Aku bukanlah orang di lingkaran dalam yang mengerti secara lengkap kronologinya. Aku memang berdiri diluar pagar, dan hanya berperan sebagai penonton yang masih termanggu dan terpaku. Akupun bisa tertipu.
Aku teringat beberapa kali si Tante Lily, begitu sapaan akrab istri beliau, mengajakku berdoa. Ia memang mengenalku sebagai orang yang suka berdoa. Setelah makan siang biasanya ia melewatkan beberapa waktu untuk cerita mengenai kesulitannya. Selalu ia tutup dengan pesan ”Ojo lali, bantu doa lho’, katanya menirukan logat jawaku yang masih kental saat itu. ”Iya Tante”, aku menggangguk sambil pamit kembali ke meja kerjaku.
Kadang pula si Tante, mengundangku kerumahnya waktu makan siang. Hanya untuk menyuguhkan menu kesukaannya. Nasi panas yang disertai tahu goreng dan kecap manis. ”Ini makanan yang paling enak”. Akupun mengangguk tanpa berani tak setuju. Sewaktu pamitan mau pulang, ia mengambil sesuatu di kulkas, ”Ada apel dan coklat yang Tante bawa dari Swiss, bawa pulang buat istrimu”, katanya lagi tanpa minta persetujuanku. ”Ojo lali, bantu doa lho”, sekali lagi ia mengingatkanku.
Ah, ada lagi yang aku hampir lupa. Si Tante adalah orang yang merancang roti perkawinanku. Datang ke gerejaku. Dan ia pula yang ’memerintahkan’ petugas bagian umum mempersiapkan mobil pengantinku. Aku semakin terkesima. Iapun menimba kedalaman dan keindahan hidup. Gara gara sikapnya itulah, istriku menolak mentah-mentah ketika tahun 1987, aku ingin pindah kerja hanya karena tawaran sebuah sedan baru. ”Sabar saja, disini kau bisa berkarya bagi manusia dan Tuhan”. Istriku mengingatkan kegiatanku sebagai perancang drama natal setiap akhir tahun untuk seluruh kelompok perusahaanku. ”Belum tentu diperusahaan baru, kau dikenal sama yang empunya dan istri si empunya. Apalagi ingat akan apel dan coklat buat daku”, katanya pragmatis tanpa bermaksud berfilsafat.
Hal ini juga membuatku semakin berani bertanya, lalu kenapa mesti si Om dan Tante yang terkena?
”Ah, apa gunanya aku hidup ’bersih’ tatkala yang ’kotor’ semakin menjulang. Makin bersih, makin sulit mendapat dukungan. Kalau yang lain kotor, aku jadi manusia aneh. Sehingga seorang kolegaku, Widjaja Kartika, ’Wik’ begitu sapaannya, sempat berujar ”When the truth is abnormal”.
Aku makin tak mengerti. Apa artinya sebuah kejujuran, ketulusan, kebenaran dan kebaikan dengan sebuah sukses sempit dalam arti kesuksesan prestasi keuangan?
Tak kuperoleh korelasi positif antar keduanya, tatkala idolaku harus terhempas justru karena sebuah prinsip yang buatku adalah ’amazing’.
· Ia rela melepas saham di perusahaan yang didirikannya hanya untuk membayar kewajiban anaknya
· Ia rela meninggalkan tahta kekuasaan yang layak disandangnya hanya untuk bisa memeluk dan menimang anaknya di pangkuannya
· Anaknya lebih berharga dibandingkan harta yang bisa tetap dipertahankannya.
· Integritas bahwa hutang harus dibayar, bukanlah sesuatu yang dikotbahkannya tapi dilakukan, walau untuk itu ia harus rela turun derajatnya
· Ia sangat menghayati artinya sebuah pengorbanan.
· Ia mengerti bahwa ’bukan salahku, kenapa aku mesti berkorban’, adalah ungkapan tabu bagi seoarang ayah bagi anaknya. Ia menghayati bahwa perumpamaan anak yang hilang bukan sesuatu yang harus ia mengerti tapi sesuatu yang harus ia lakukan.
· Ia mengerti apa artinya teman dan sahabat. Seorang sahabat adalah seseorang yang tulus membantu tanpa pamrih. Ia berada disana saat dibutuhkan. Saat krisis dan kritis ia membantu. Ia hadir tanpa diminta. Seorang teman, hadir dalam sebuah keceriaan. Ada gula ada semut. Sewaktu susah, seorang teman akan datang membantu. Tidak dengan uluran terbuka. Ia menuntut sebuah pengembalian yang wajar. Sekalipun teman, mereka siap menolong tapi bukan berarti tanpa sebuah keuntungan.
Kalau itu terjadi pada diriku, mungkin aku sudah berontak dan menjadi gila.
Bagian ini Pak Edwin memberi cacatannya : “Walaupun saat terjadi, saya sangat terpukul, saya yakin Tuhan pasti punya rencana yang lebih indah dari pada apa yang kita, manusia pikirkan. Bahwa sampai hari ini keluarga WSO tidak ada yang gila, seperti yang Anda katakan mungkin saja terjadi jika Anda tertimpa musibah seperti ini, adalah anugerah Tuhan. Saya yakin bahwa Tuhan mempunyai rencana lain, yang indah bagi kita semua, hanya saja, seringkali kita mau lebih tahu dari Tuhan. Saat itulah kita terpuruk.”.
Tak kubayangkan jerih payah sejak tahun 1957 sirna tak berbekas justru pada usianya yang sangat matang, 35 tahun. Sebuah masa keemasan yang paling bersinar. Paruh waktu yang paling berharga dari sebuah umur kehidupan seorang manusia. Tentu, aku tak mudah menerimanya.
Aku sadar, ini bukanlah sebuah permainan baik buruk dan benar salah. Tapi bagiku ini sebuah parodi yang tak wajar, atau dalam keadaan sesungguhnya tak mau kudengar cerita sedih begini. Apalagi kini aku mengalaminya. Melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Bahwa ada orang besar yang menurutku pada termasuk sedikit orang yang bernilai baik, harus memulai segala sesuatu dari nol lagi. From Big Hero to Small Zero.
Kalau begitu, seandaikan aku yang ada disitu apa yang akan kulakukan? Beranikah aku mengambil cawan yang sudah diambilnya. Beranikah aku berdiri tegak salah satu keluarga runtuh bagai buluh yang terkulai. Atau tegakah aku bermain seperti layaknya pemain lain di permainan ini.
Hutang tidak harus dibayar. Dengan segala macam alasan dicarikan upaya agar bisa ’ngemplang’.
Hutang harus restrukturisasi, dan dibayar sesuai dengan kekuatan arus kas. Soal nasabah dikorbankan itu adalah resiko yang mereka harus terima. Nasabah harus ikut menanggung resiko.
Paling mudah, cari ’backing’ penguasa. Serahkan seperlima atau sepertiga atau kalau mereka serakah setengahnya, asal semua masalah bisa dibereskan. Kan semua bisa diatur.
Soal kata yang selalu diucapkan pada acara kebaktian senin pagi atau natalan setahun sekali, mudah direvisi. Toh tidak ’walk the talk’ adalah sesuatu yang jamak. Manusia terdiri dari darah dan daging. Mudah bersalah. Akan kucari tokoh kitab suci pengobat rasa agar rasa bersalahku semakin berkurang.
Dan sebagai penutup supaya kelihatan sebagai orang yang saleh, akan kusampaikan ”Tuhan maha pengampun”. Tuhan akan mengampuni dosamu, andai ia merah seperti kirmizi sekalipun.
Makanya aku bukan si Om dan si Om bukan aku. Aku tak mengerti kenapa ia begitu mempertahankan NILAI (value and principles), bukan mempertahankan BILANGAN (numbers – represents money in any form).
Sewaktu kubaca lagi tulisan itu empat belas tahun kemudian (2007), aku sadar bahwa si Om ternyata sudah menorehkan sebuah kepemilikan yang hakiki walaupun tanpa memiliki. Bilangan dan keuangan boleh sirna, tapi nilai yang ditanam di Astra masih tetap abadi sampai saat ini.
Catur Dharma dan Tujuan Astra masih tetap sama. Cara kerja dan sistim nilai yang dianut para petinggi penerusnya masih tetap sama. Nilai-nilai itu sudah teruji dan masih dianggap relevan oleh pemilik yang sudah bergante beberapa kali. Nilai itu sudah menjadi jiwa setiap insan Astra sampai sat ini.
JB Soesetyo , sahabat saya wartawan senior berbagai Majalah terkemuka, menulis catatannya : ”Saya jadi ingat cerita Pak Michael Alm, mantan Presdir Astra waktu kami mengadakan wawancara khusus dengan beliau. Pak Michael bilang, betapa Astra harus berterima kasih ketika Om Willem yang rela melepas kepemilikannya di Astra demi melunasi kewajiban Pak Edward. Om Willem mengajarkan value Catur Dharma dan menerapkannya secara langsung. Beliau mengajarkan bahwa utang harus dibayar, bukan malah ngemplang. Apa yang dilakukan Om Willem ini sangat mempengaruhi reputasi Astra International di mata para kreditur. Pihak kreditur kemudian melihat Astra sebagai perusahaan yang sangat komit terhadap kewajiban-kewajibannya. Ini kemudian ternyata sangat membantu ketika Astra harus menegosiasikan kembali utang-utangnya.
Jadi, pengorbanan Om Willem besar artinya buat Astra. Dan beliau sadar betul artinya itu ketika melakukannya. Om Willem memang pengusaha sangat luar biasa. Bandingkan dengan konglomerat lain yang mengantongi dana BLBI dan malah lari ke luar negeri”.
Apa yang menyebabkan pergantian kepemilikan dan kepengurusan Astra sejak tahun 2003 tidak mengubah landasan nilai yang diyakini Om dan keluarganya saat mengembangkan Astra di tahun 80 an? Ada tiga hal mendasar yang dapat dipelajari :
Pertama, nilai yang dianut si Om bukanlah nilai yang ekslusif milik keluarga. Ia adalah nilai universal yang inklusif. Si Om mendengar kata para eksekutifnya dalam penggalian dan perumusan, dan ekskekutif mendengar apa keinginan Om yang paling dalam. Akibatnya, nilai-nilai ini bukan hanya dihayati oleh pemilik, tapi seluruh pengurus perseroan. Itu sebabnya, nilai-nilai ini dengan cepat dijabarkan dan dilaksanakan oleh seluruh lapisan manajeman. Nilai ini sudah menjadi nilai insan petinggi Astra. Pada akhirnya, petinggi itulah yang membawa nilai ini menjadi nilai setiap insan Astra.
Kedua, nilai yang tertulis dan tindakan yang dilakukan haruslah seiring dan sejalan. Bukti yang paling membuat nilai ini memiliki nilai magis dan transedental adalah tatkala si Om harus melepas sahamnya agar bisa melunasi hutang keluarganya. Ia memang ingin menjadi milik yang bermanfaat bagi bangsa, Ia ingin sejahtera bersama seluruh nasabah bank milik keluarganya yang harus ditutup. Ia melepas semua agar masyarakat lain tidak jadi korban. Ia menulis nilai-nilai itu dalam tindakannya. Ia adalah panutan. Langkah inilah yang akhirnya majadi ’brand’ Astra selanjutnya. Bahwa Astra tidak akan lari dari kewajiban hutang, Astra tidak akan merusak lingkungan, Astra tidak akan menghancurkan Usaha Kecil Menengah hanya untuk memperbesar diri sendiri, Astra akan menjadi bintang yang bersinar, sebuah contoh yang dapat dibanggakan.
Prinsip inilah yang menyebabkan para petinggi Astra mewarisi jiwa ini secara sungguh-sungguh. Restrukturisasi hutang Astra pada tahun 1999. Restrukturisasi hutang PT Astra Graphia pada tahun 2000. Restrukturisasi hutang PT United Tractors pada tahun 2004. Adalah tiga kejadian yang penulis alami karena terlibat baik langsung maupun tidak langsung didalamnya. Nilai yang dianut masih sama, tidak lari dari kewajiban dan membayar sesuai dengan kesepakatan.
Ketiga, nilai itu harus terus diingatkan dalam setiap kesempatan. Seperti kita mendengar kotbah setiap minggu atau jumat, pesan yang sama diulang sampai kadang kita bosan mendengarnya. Tapi itulah yang terus dilakukan. Pesan yang terus dikumandangkan akan semakin melekat. Petinggi Astra terus secara konsisten mensyiarkan nilai Catur Dharma ini ke seluruh jajaran karyawan dalam berbagai kesempatan. BA Suriajaya, TP Rachmat, Rini MS, Budi Setiadharma dan Michael D. Ruslim tetap seiring dan senada dengan nilai dasar Astra.
Bahkan untuk lebih memperkuat fondasi nilai menghadapi pertarungan di arena global puluhan tahun mendatang, Astra sudah menyiapkan diri dengan merumuskan butir-butir Catur Dharma baru yang lebih pas untuk kondisi masa kini. Sebuah tindakan yang amat terpuji untuk melestarikan sebuah nilai hakiki yang dianutnya. ”The only sacred cow in a business is its values”.
Itu sebabnya, saya berani mengatakan walaupun si Om sudah tidak memiliki Astra, tapi semangatnya, sejarahnya, nilai hidupnya tetap membara di seluruh insan Astra. Ia sudah membangun Astra dengan dirinya sendiri. Pengorbanan ini tidak akan pernah dilupakan orang.
Inspirasi:
Apakah Anda dapat menunjukkan contoh aktivitas Anda yang sejalan dengan nilai anda?
Kalau Anda saat itu sebagai William Soeryadjaya, apakah Anda mau melepas Astra untuk membayar kewajiban keluarganya?
Untuk mencegah hal itu terjadi, apa yang seharusnya Anda lakukan?
Bagaimana Anda melestarikan nilai Anda dalam perusahaan anda?
Tindakan apa yang Anda lakukan agar nilai-nilai Anda tetap abadi setidaknya lima belas tahun setelah Anda meninggalkan perusahaan yang Anda pimpin sekarang ini?