Namanya mudah diingat orang, Stanley. Pendidikannya mudah dilupakan orang, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan. Perawakannya mudah dilecehkan, karena kurus, pendek dan tidak menunjukkan profil 'macho' sehingga dikejar para gadis. Namun gaya bicara dan semangatnya tak mudah diikuti orang karena termasuk manusia luar biasa.
Masuk ke sebuah perusahaan besar sebagai karyawan 'outsourcing' bidang 'Cleaning service' di gudang. Suatu posisi yang paling rendah seakan tak ada harapan untuk maju kecuali mendapat durian runtuh diangkat menantu oleh sang majikan. Namun Stanley tak mengeluh apalagi ikut demonstrasi menuntut perubahan hak menjadi karyawan tetap hanya karena soal waktu bukan prestasi.
Hari hari dilaluinya dengan semangat dan gembira. Ini yang membedakan Stanley dengan pegawai lainnya. Ia tidak hanya berhenti membersihkan gudang yg kotor, tapi mulai meningkatkan kemampuannya dengan menghapal nomor suku cadang yang ada di gudang tersebut. Ketika ada pesanan masuk, ia menawarkan diri kepada kepala gudang untuk mencari dan mengambil suku cadang yang dimaksud. Tentunya tawaran ini mendapat dukungan kepala gudang.
Sekian lama membersihkan dan menghapal nomor suku cadang dan lokasinya, membuat Stanley mampu menguasai seluk beluk penempatan suku cadang dan jumlah yang seharusnya ada. Tanpa sadar ia sudah berlatih 'inventory management' dengan 'min max quantity' yang cukup canggih. Alhasil, ia dipekerjakan sebagai kepala gudang bayangan walaupun posisi sebenarnya hanya sebagai 'office boy'. Stanley, tidak memikirkan jabatan, yang penting ia terus meningkatkan kemampuannya sehingga atasannya akan dengan senang hati mempromosi pekerjaannya.
Sebagai kepala gudang bayangan, Stanley mempelajari lagi ilmu penjualan. Ia dengan aktif memasarkan suku cadang yang sedang dalam program promosi kepada para pelanggan yang datang di kantornya. Kegigihannya dan kesabarannya melayani pelanggan dengan menyediakan suku cadang secara tepat dan cepat, menarik perhatian kepala cabangnya. Apalagi, ia berhasil menambah omzet karena pelanggan ikut menambah pembelian dengan gaya promosi Stanley yang 'genuine' dan progressif. Ia mendapat tawaran sebagai 'counter sales person'.
Walaupun ia tidak mengenyam pendidikan tinggi, semangatnya untuk mempelajari hal baru yang berbau keilmuan tidak kalah dengan lulusan strata satu lainnya. Ketika diperkenalkan konsep 'Blue Ocean Strategy' karya Prof Chan Kim dari INSEAD, iapun tak segan mempelajarinya. Ia mencoba mengenal apa itu 'strategy canvas', bagaimana kerja 'key parameter of success', dengan bahasa sederhana ia implementasikan di pekerjaannya.
Dalam suatu kesempatan, saya memintanya untuk mempresentasikan program inovasinya melalui penerapan 'Blue Ocean Strategy'. Gayanya yang bersemangat membuat saya terkesima.
'Pak, ada tiga hal yang tidak boleh kita lakukan dalam hubungan dengan pelanggan yakni pertama tidak boleh memberi 'fee' ke bagian pembelian, kedua tidak boleh memberikan bon kosong dan ketiga tidak boleh transaksi tanpa PPN. Padahal di daerah ini ketiga hal itu adalah prasyarat untuk bisa menjual. Saya menerapkan tiga hal baru yakni strategi jemput bola, menanyakan kebutuhan pelanggan sebelum kebutuhan itu tiba, melayani dengan sepenuh hati kalau perlu diluar jam kerja dan membina hubungan baik dengan pemilik perusahaan secara langsung tanpa melalui bagian pembelian', ujarnya sambil membawakan 'strategy canvas' dengan cara sedehana.
'Bagaimana hasilnya ?', tanya saya seakan tak sabar menanti hasilnya.
'Puji Tuhan Pak, penjualan saya meningkat dengan pesat', jawabnya tanpa bermaksud menyombongkan diri.
Karena ketulusan dan kejujurannya, para pemilik perusahaan mengenal Stanley sebagai 'brand' untuk membeli suku cadang dan mengalahkan 'brand' perusahaannya. Stanley adalah 'brand' kejujuran, semangat pelayanan dan ketepatan. Saya terkesima.
Memang inovasinya tidak berhasil menjadi juara di cabangnya sehingga menjadi wakil untuk pertandingan tingkat pusat. Tapi semangat dan keinginan untuk maju mendorong saya memintanya ke Jakarta untuk melihat konvensi inovasi.
Sebagai undangan khusus dan nantinya saya akan memberikan penghargaan khusus karena keberaniannya untuk bertindak jujur tanpa menyuap yang sepertinya sudah semakin langka di negeri ini. Stanley ternyata mampu berdiri teguh memegang prinsip. Ini yang membuat saya malu. Apa saya bisa seperti dia, kalau saya ada di posisinya?
Setahun kemudian, saya mengunjunginya lagi. Stanley masih seperti yang dulu, semangat belajarnya dan ketulusan pelayanannnya membuat dia dicintai pelanggan dan rekan sekerjanya. Walaupun ia sudah 'dipromosikan' lagi sebagai kordinator 'counter sales', ia tetap rendah hati menolong pelanggan. Nama Stanley sebagai 'brand' semakin menguat.
Ketika saya tanya dalam pembicaraan hati ke hari 'Apa yang kau inginkan?'. Ia menjawab dengan singkat 'Pak, saya hanya ingin jadi karyawan tetap'. Seperti guntur dan kilat menyambar hati saya. Saya baru tahu, ia masih tenaga kontrakan. Ini berarti bagian HRD dan kepala cabang tidak melihatnya sebagai karyawan yang berpotensi. Mereka melihat sebagai 'resources' dan bukan 'human'. Bergulat dengan 'nomor pegawai' tanpa melihat dengan hati.
Dengan sigap saya memprosesnya, dan hari itu juga Stanley diangkat sebagai karyawan tetap, tentu dengan melalui prosedur yang berlaku. Ketika saya umumkan, pegawai lain bersorak sorai. Mereka bergembira campur terharu.
Stanley hanya berucap lirih, kali ini air matanya menggenang 'Bapak, seperti malaikat untuk saya. Terima kasih banyak'.
Kembali saya terhenyak diam. Tak terasa air mata saya ikut mengalir deras, ketika saya memeluknya dan berkata 'You deserve it. You promote yourself'.
Malam itu dalam pertemuan dengan seluruh karyawan di resto indah yang menghadap pantai, saya mengatakan 'Saya terinspirasi dengan Stanley yang mulai bulan depan sudah mengenakan kartu identitas permanen. Walaupun statusnya pegawai 'outsourcing' dan dimulai dari bagian pembersih, ia tidak pernah berhenti belajar. Ia senantiasa mengerjakan lebih dari apa yang dicantumkan dalam job deskripsinya. Ia tidak menuntut hak tapi memperbesar kewajiban. Ia tidak memperbesar hutang tapi meningkatkan piutang atasan karena ia mengerjakan yang lebih besar dari yang seharusnya'.
Stanley sudah menanam bibit baik, itu sebabnya ia menuai berkat. Dilakukan bukan karena keberuntungan tapi dengan strategi kerja keras dan berpeluh. Kalau Stanley bisa, anda juga bisa.
Inspirasi :
Bagaimana sikap anda ketika anda berada di posisi Stanley ? Apakah anda berani merancang sesuatu yang berbeda seperti yang ia lakukan atau anda akan mengikuti arus saja supaya cepat mendapat hasil ?
Kalau anda menjumpai karyawan anda yang sudah secara cermat merancang proses tapi hasilnya tidak sesuai harapan, apa yang anda akan lakukan ?
Sampai seberapa jauh anda memonitor kebijakan anda dalam perencanaan yang dilakukan anak buah anda ?